Thursday, April 11, 2013

Finding Srimulat, Nostalgia Budaya Lokal Indonesia ;)


Waktu SD, hari kamis adalah hari istimewa bagi saya karena beberapa hal. Salah satunya, karena ada tayangan humor Srimulat malam jam 9 walaupun harus bawa baskom air buat mbasahin mata biar ga ngantuk. Saya ga pernah absen nonton Srimulat. Biasanya nonton sama bapak. Pelawak favorit kami sama yaitu Timbul. Saya ga tau anak kecil lain juga suka nonton Srimulat apa engga. haha. Kemudian seiring lewatnya tahun 90an, Srimulat juga udah mati suri dan ga tayang lagi di televisi. (Salah satu yang bikin Srimulat mati menurut saya karena waktu itu ada kegeser tenarnya Ketoprak Humor. Saya juga suka banget Ketoprak Humor. hehe)

 Dan hari ini, hari kamis juga, adalah hari premiere film Finding Srimulat.  Sebagai penggemar dan pecinta Srimulat, saya ngrasa kudu nonton film ini apalagi trailernya juga bagus dan menggoda.


Trailer Finding Srimulat

Film ini bercerita seorang anak muda Adika Fajar (Reza Rahadian) yang punya mimpi mereunikan Srimulat karena dia sendiri penggemar Srimulat waktu kecil. Kalo ga ngliat trailernya sama sekali bisa jadi ngiranya ini film komedi Indonesia ecek-ecek macam su*mi2 t*kut istr*. Tapi ternyata film ini film drama bermutu yang kaya emosi seperti kebanyakan film tipe reuni lainnya. Mulai dari emosi humor, drama, nostalgia hingga yang mengharukan.

Hal yang seru karena humor nya Srimulat diangkat masih sama kayak dulu. Karakternya masing2 anggota Srimulat masih kental banget. Jadi bikin nostalgia kangen gitu. Konsep ceritanya juga bagus dan dinamis. Sejarah dan prinsip Srimulat juga diceritakan, sehingga film ini ga lupa sama akarnya. Reza Rahadian cukup mewakili generasi muda yang memberi semangat di film ini. Cameo Butet Kertaradjasa sebagai penonton pertunjukkan reuni Srimulat mewakili perasaan orang-orang yang kangen kembalinya humor Srimulat. Music Scoring di film ini bagus banget dan sangat membantu emosi dari film ini.

Finding Srimulat 2
ini di Stasiun Balapan, Solo

Sampai film ini kelar, saya masih belum pengen keluar studio. Karena disitu ada slide tribute foto2 jadul anggota Srimulat yang sudah almarhum. Saya masih ingat tuh Asmuni, Timbul, Gepeng dll. Sampai di credit title juga orang-orang belum pengen keluar studio, karena ada cuplikan-cuplikan behind the scene pembuatan film yang lucu-lucu dan penuh nuansa kekeluargaan. Iya, film ini kekeluargaanya kerasa banget,  spirit menghidupkan Srimulatnya juga kerasa banget. Saya juga ngrasa film ini Indonesia banget, karena Srimulat sebagai unsur budaya lokal nya bener-bener diangkat kembali.

Applause buat Charles Ghozali sebagai Sutradara dan penulis skenario.

Alur ceritanya bagus meskipun engga perfect juga, tapi kekurangan itu ketutupin banget sama keistimewaan-keistimewaan yang udah saya sebutin. Recomended buat ditonton! Karena katanya engga ada home videonya. Ayo hidupkan budaya lokal dan film Indonesia. (klise banget ya :p)


"Di balik pria yang sukses ada perempuan yang selalu gelisah." - Bu Djujuk
"Hei, ngomong! Bayare podo kok ora ngomong." - Tessy

Thursday, December 20, 2012

Karena mencari dan tidak menemukan itu bagian dari menemukan.....

Saturday, October 27, 2012

Dunia Paradoks

Dunia ini tempat manusia untuk apa?
Aku menemukan begitu banyak paradoks didalamnya. Ada manusia yang membabat alamnya habis-habisan tanpa pandang bulu demi keuntunganya. Ada manusia yang rela bersusah-susah menyelamatkan satu nyawa hewan langka, pohon, yang habitatnya alamnya dihabisi tadi. Dunia ini tempat manusia untuk apa?

Ada manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri seumur hidupnya ketika ia mampu memakmurkan orang lain. Ada yang begitu sederhananya hidupnya karena terlalu sibuk memikirkan dan berguna buat orang lain.

Ada yang berkemampuan seadanya dan ia hanya mampu berbuat untuk dirinya dan Tuhannya. Surga bisa jadi tempatnya.

Ada manusia yang tak percaya Tuhan, tak beragama, tak mengenal islam, tapi bisa menjaga damai di hatinya dan sekitarnya. Pun juga ada juga yang sudah tak beragama, sibuk berbuat kerusakan pula.

Namun ada juga yang beragama, tapi suka merendahkan orang lain, sombong, dan suka mendebat sehingga muncul perselisihan. Dan juga ada yang mampu beragama dan menyebarkan dakwah dan kebaikan dengan cinta.

Ada yang rajin solatnya tapi masih suka iri dengki terhadap nikmat orang lain, hatinya tak pernah tenang. Ada yang baik ibadahnya maupun hatinya sama-sama baik.

Di beberapa sejarah kehidupan manusia yang diceritakan oleh Alquran, beberapa umat tak mampu mengubah nasibnya, walaupun peringatan petunjuk Tuhan sudah sangat jelas melalui Rasul. Mereka berakhir dengan kekacauan adab perilaku, dan mendapat azab. Bahkan Nabi pun sudah tak mampu mengubah umat yang melampui batas tersebut. Allah menyelamatkan nabi, dan mengadzab umat yang membangkang itu.

Iblis di masa Adam, jelas-jelas tau dan mengakui betul bahwa siksa Allah sangat pedih (ada di ayat Alquran). Tapi ia tetap tak mematuhiNya hanya karena kesombongan di hatinya.

Dunia ini, paradoks ada di dalamnya. Islam sudah sangat maju, subur dan mayoritas di negriku ini. Tapi kenapa kepicikan, kerusuhan, permusuhan juga begitu subur di dalamnya? Bahkan yang islam sekalipun mengkafirkan sesamanya. Mendikte dikte. Bila ada yang tak sesuai dengan teori yang dipahaminya, ia akan memperingatkan dengan paksaan. Pun dilakukan oleh beberapa ulama.
Kenapa?

Islam mulai tumbuh di negri ini dengan cinta dan damai. Karena dahulu islam di akulturasi dengan budaya jawa,Indonesia, ia jadi memiliki banyak peminat. Islam memiliki daya tarik dengan kedamaianya, nilai-nilai didalamnya, dan perpaduan dengan budaya jawa dan seni. Ia tidak memaksa, tapi mengajak, ia menghargai, ia penuh dengan toleransi.

Melihat sejarah umat terdahulu, bukan ga mungkin kalau kita adalah salah satu umat yang melampui batas itu. Lalu apa yang harus kulakukan kalau aku berada di antaranya? Akupun lemah dengan segala kekuranganku. Aku ga bisa memperingatkan siapa-siapa. Aku hanya bisa berdiskusi dengan diriku sendiri. Aku pun masih belum berguna untuk siapapun.